“Di Indonesia, ada Perusahaan Negara (PN) Garam yang merupakan BUMN, yang saat ini masih menjadi pemain besar di sektor usaha garam. Selain itu, kurang pengusaha yang mau berinvestasi dalam usaha garam, karena minimnya nilai tambah yang diperoleh,”kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, DR Ir Hasanuddin Atjo, MP, ditemui usai membuka Bimtek bagi pelaku usaha garam rakyat, akhir pekan kemarin.
Panjang garis pantai Indonesia, memang cukup panjang. Sayangnya, di seluruh Indonesia, hanya ada beberapa titik yang menjadi tempat pembuatan garam. Di seluruh Indonesia, tercatat hanya ada 30 ribu hektar lahan tambak garam. Dari jumlah itu, yang terbanyak atau sekitar 25 ribu hektar berada di daerah Madura. Menurut Hasanuddin Atjo, tidak semua kawasan bisa dijadikan tempat untuk membuat garam. Terutama garam untuk kebutuhan industri.
“Konsumsi tidak terlalu menuntut kadar Natrium Clorida (NaCl), sehingga bisa dibuat dimana-mana. Untuk kebutuhan konsumsi, kadar NaCl hanya sekitar 60 persen saja. Kalau kebutuhan industri, kadar NaCl-nya harus 97 persen. Justru yang paling banyak permintaannya dari sektor industri,”katanya.
Sementara itu, terkait kelangkaan garam saat ini, yang menyebabkan Indonesia harus melakukan impor garam, menurut prediksi Hasanuddin Atjo, karena faktor cuaca. Tingkat curah hujan yang cukup tinggi di daerah yang menjadi pemasok garam, menyebabkan produksi garam menurun. Di sisi lain, permintaan malah justru meningkat, khususnya untuk garam industri.
Kebutuhan garam di Indonesia, untuk kebutuhan konsumsi dan industri mencapai 2,6 juta ton. Sedangkan produksi garam nasional di 2016, sesuai data Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, hanya 160 ribu ton. Cukup besar, selisih antara kebutuhan dengan jumlah produksi. Olehnya itu, perlu dicarikan solusi, agar tidak menjadi faktor inflasi. Olehnya itu, pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan impor.
“Garam memang sedang langka saat ini. Sangat terasa, dari Rp80 ribu perkilonya, sekarang naik Rp300 ribu perkilonya. Dari total permintaan garam di pasaran, dominan dari sektor industri baru konsumsi. Permintaan yang meningkat, kemudian produksi turun, makanya wajar kalau terjadi kelangkaan,”katanya.
Olehnya itu, diperlukan intervensi oleh pemerintah, untuk mendorong usaha garam rakyat, dengan cara mengenalkan teknologi. Dengan pendekatan teknologi, maka faktor alam, tidak akan banyak memberikan pengaruh dalam produksi garam. Saat ini, teknologinya sudah ada.
“Kelangkaan garam saat ini, menurut Hasanuddin Atjo, bisa jadi peluang bagi usaha tambak garam. Namun diperlukan teknologi, sehingga lebih memiliki nilai tambah,”tandasnya.(hnf)
Sumber: Radar Sulteng











