“Tetapi mungkin kita tetap pertahankan kawasan tersebut, dengan membangun mesium teknologi pembuatan garam. Bukan hanya bagaimana membuat garam di Palu atau Indonesia, tapi juga cara membuat garam di negara lain di dunia. Jadi tujuan utamanya, bukan lagi untuk bisnis, tapi lebih kepada edukasi kepada masyarakat,”kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, DR Ir Hasanuddin Atjo, MP, ditemui pekan kemarin.
Selain bertujuan untuk edukasi, jika mesium garam benar-benar dibuat di lokasi penggaraman Talise, juga bisa dijadikan sebagai kawasan wisata urban. Nantinya, jika ada yang ingin melihat dan belajar, bagaimana cara membuat garam, bisa diperoleh di lokasi penggaraman Talise.
Apalagi katanya, kawasan penggaraman Talise sudah masuk dalam peta zonasi dan ditetapkan sebagai kawasan penggaraman. Namun nantinya, harus lebih banyak intervensi pemerintah, jika ingin mempertahankan lokasi tersebut, sebagai kawasan penggaraman.
Alternatif lainnya, jika ingin mempertahankan kawasan penggaraman tetap ada di Sulteng, maka dicarikan lokasi di luar Palu. Ada beberapa kawasan di pesisir Pantai Barat, yang kelihatannya cocok untuk dijadikan kawasan garam rakyat.
Sementara itu, terkait Bimtek **** bagi petambak garam yang dilaksanakan akhir pekan kemarin, menurut Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Bidang Penataan Ruang Laut, Muh Edward Yusuf, MSc, bertujuan untuk mengenalkan para petambak garam, dengan berbagai teknologi, terkait pembuatan dan pengolahan garam. Dengan pembuatan garam berbasis teknologi ini, diharapkan akan lebih memberikan nilai tambah bagi usaha tambak garam rakyat.
“Kegiatan ini dilaksanakan sehari. Pesertanya, selain petani garam, kita mengundang stakeholder atau pihak-pihak terkait lainnya. Untuk narasumber, kita mengundang pakar yang mengetahui tentang teknologi pembuatan garam,”demikian Edward.(hnf)
Sumber: Rada Sulteng











