“Kawasan tersebut, kita akan mengintegrasikan seluruh program yang ada di bidang dan UPTD. Makanya nanti, Kecamatan Balaesang Tanjung, kita sebut sebagai kawasan integrasi. Kedepannya, kita memiliki harapan besar, Balaesang Tanjung akan menjadi role model pembangunan berbasis kawasan dan komunitas,”kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, DR Ir Hasanuddin Atjo MP, ditemui medio pekan kemarin.
Hasanuddin Atjo, bersama jajarannya pada awal pekan kemarin, secara khusus mengunjungi Kecamatan Balaesang Tanjung. Di kecamatan yang di dalamnya terdapat danau Rano dan Tanjung Manimbaya itu, Hasanuddin Atjo melakukan audience dengan masyarakat. Ada banyak harapan, potensi, dan sumber daya lainnya, termasuk komitmen masyarakat, yang membuat Hasanuddin Atjo, memiliki rasa optimistis yang besar menjadikan Balaesang Tanjung sebagai kawasan integrasi. Hasanuddin Atjo, dalam kesempatan kunjungannya ke Balaesang Tanjung, juga menjadi pembicara dalam pertemuan yang difasilitasi oleh Forum KUB Pasoso.
Di Balaesang Tanjung kata Hasanuddin Atjo, memiliki potensi untuk sector perikanan tangkap, khususnya untuk jenis ikan demersalm (ikan batu). Saat di Balaesang Tanjung, Hasanuddin Atjo melihat masih cukup luar biasa komoditi demersal. Hanya saja yang menjadi kendala, dalam proses pemasarannya, masyarakat belum mendapatkan harga yang layak untuk ikan-ikan hasil tangkapannya. Olehnya itu, Hasanuddin Atjo, akan coba memformulasikan model pemberdayaan berbasis koperasi, yang dibina dan didampingi langsung oleh instansi yang dipimpinnya.
Selain komoditi ikan demersal, juga banyak potensi komoditi pelagis dan tuna. Bahkan salah satu penerima bantuan kapal 3 Gross Tonase (GT) dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng yang ada di Balaesang Tanjung, mengaku mendapatkan hasil tangkapan yang cukup lumayan.
“Penangkap ikan demersal, mengaku bisa mendapatkan tangkapan hingga 300 kg ikan dalam satu trip penangkapan dengan durasi 3 hari. Seharinya, dia membutuhkan modal untuk BBM dan logistic sekitar Rp500 ribu, berarti dalam satu trip penangkapan Rp1,5 juta. Dengan hasil tangkapan 300 kg dan mendapatkan harga ikan Rp30 ribu perkilonya, berarti nelayan itu mendapatkan hasil sekitar Rp9 juta. Dikurangi modal BBM dan logistic, berarti dia bisa meraup pendapatan Rp7,5 juta dalam satu trip,”kata Hasanuddin Atjo lagi.
Harga ikan Rp 30 ribu, merupakan harga paling minim untuk jenis ikan demersal. Jika dibuatkan pola pemasaran yang lebih baik, serta membangun jaringan dengan pembeli-pembeli besar, Hasanuddin Atjo yakin, harga perkilo ikan bisa di atas Rp 40 ribu. Dengan demikian, nelayan akan semakin mendapatkan nilai tambah.
Untuk kegiatan budidaya, di Kecamatan Balaesang Tanjung, ada budidaya rumput laut dan budidaya ikan air tawar yang dilaksanakan di sekitar Danau Rano Desa Rano. Bidang Perikanan Budidaya bersama UPT Perbenihan, bisa melakukan pembinaan untuk kegiatan budidaya dan membentuk beberapa Unit Perbenihan Rakyat (UPR).
Kemudian, bidang lain seperti P2HP, bisa masuk bersama UPT Laboratorium untuk membina masyarakat, melakukan kegiatan pengolahan hasil laut. Di antaranya pembuatan abon ikan, nugget ikan, serta olahan lainnya yang bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Saat kami kunjungan ke Balaesang Tanjung, sekaligus memberikan pelatihan kepada masyarakat mengolah hasil perikanan,”katanya lagi.
Di Balaesang Tanjung, juga akan dijadikan kawasan konservasi, khususnya konservasi mangrove. Saat bertatap muka dengan masyarakat di Balaesang Tanjung, salah seorang guru tingkat PAUD, memberikan usulan, agar kiranya di desanya ada semacam laboratorium lingkungan, khususnya tanaman mangrove. Dengan demikian, siswanya bisa langsung belajar di alam. Sekaligus menumbuhkan kesadaran sejak dini, tentang pentingnya menjaga ekosistem.
Menurut Hasanuddin Atjo, ada beberapa alasan sehingga Balaesang Tanjung akan dijadikan kawasan konservasi. Selain posisinya yang agak terpencil, memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan, juga adanya komitmen yang kuat dari masyarakat. Katanya, komitmen tersebut sangat penting untuk keberhasilan program yang akan dilakukan.
“Kita mencoba untuk masuk dulu. Bahkan kita akan memikirkan perlunya membangun satu pelabuhan perikanan di Balaesang Tanjung. Setelah kawasan ini berhasil, saya yakin instansi lain akan tergerak untuk mengintegrasikan diri, seperti pendidikan dan kesehatan. Kita targetkan, agar Balaesang Tanjung jadi kawasan yang menjadi role model yang nantinya akan dicontohi daerah lain,”pungkasnya.(hnf)
-
Teknologi Kolam Udang Vaname Supra Intensif Skala Rakyat
-
Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah Moh Arif Latjuba menebar benih ikan nila di kolam pembesaran Lepbuk Ansor di Kota Palu, Jumat (20/3). Penebaran disaksikan Kepala Seksi Perikanan Budidaya DKP Sulteng Budiyanto Somba, beberapa staf bidang budidaya DKP Sulteng, penyuluh lapangan Perikanan Kota Palu, Ramli, dan Ketua PC Ansor Kota Palu Erwin Samangka serta anggota kelompok Lepbuk
-
Sulteng Kaya SDA Perikanan, Perlu Perencanaan Matang dan Aksi Konkret











