Menjadi sosok yang inovator, merupakan tantangan yang diberikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, DR. Ir. Hasanuddin Atjo, MP, kepada seluruh insan akademis, baik yang ada di Palu, maupun dari berbagai kampus lainnya.
Tantangan ini disampaikan Hasaanuddin Atjo, saat menjadi salah satu narasumber dalam Dialog Publik yang digelar oleh HIMAPIKANI Universitas Tadulako (Untad), Jumat Kemarin.
Selain Hasanuddin Atjo, turut menjadi narasumber Dirjen Budidaya Kemeterian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, DR. Ir. Slamet Soebajkto, Deputi IV Kemenko Maritim Dr. Ir. Safri Burhanuddin, Direktur Pengawasan Ditjen Pengawasan SDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ir. Eko rudianto, M. Bush.
"Kalian, harus menjadi sosok pemenang, bukan malah jadi pengangguran. Salah satu indikator menjadi pemenang harus memiliki “Wow” factor, ’kata Hasanuddin Atjo’.
“Wow” Factor katanya, artinya alumni Untad ataupun kampus lain, memiliki karya atau produktifitasnya yang spektakuler, sehingga medatangkan kekaguman bagi orang lain, yang kemudia secara refleks, orang tersebut mengatakan “wow”, terhadap karya kita. “Itulah yang saya maksud dengan “wow” factor” tambahnya.
Kepada peserta seminar, Hasanuddin Atjo menguraikan soal syarat menjadi orang yang kompeten, yakni Kompetensinya dan Produktifitasnya.
Untuk variabel kompetensi, ada tiga lagi sub variabelnya, yakni Technical Skill. Managerial Skill, serta Attitude atau sikap. Sedangkan produktifitasnya, hasil kerjanya yang kadang melampaui dari yang diberikan.
Kompetensi, tidak hanya sekedar memiliki Technical dan Managerial Skill, yang tidak kalah pentingnya, memiliki attitude atau sikap dalam melakoni apapun aktifitasnya. Sikap kerja, yang dilihat adalah kedisiplinannya, komiymen, loyalitas, konsistensi, dan tanggung jawabnya terhadap tugas yang diberikan kepadanya.
Dipaparkan, bahwa Indonesia memiliki potensi yang sungguh luar biasa. Terutama sektor kelautan dan perikannnya. Panjangnya garis pantai, serta kondisi wilayah tropis, sehingga laut Indonesia, memiliki bnyak komoditi yang bernilai ekonomis tinggi, serta sangat ideal menjadi tempat untuk melakukan kegiatan buydidaya.
Potensi ini, menjadi tantangan buat kalian, bagaimana mengelola dan mengoptimalkannya, kata Hasanuddin Atjo.
Katanya, sebagai seorang mahasiswa, hendaknya mampu menguasai teknologi dan melahirkan inovasi – imovasi baru. Dicontohkannya bahwa di Hawai, USA, dikenal sebagai daerah penghasil induk yang memiliki kualitas nomor satu. Padahal, jika dibandingkan dengan kondisi iklimnya, Indonesia jauh lebih baik dibandingkan dengan Hawai.
Semua itu bisa dilakukan oleh Hawai, karena mereka menguasai teknologi. Kalau mereka bisa, mestinya kita juga bisa melakukan hal itu, katanya lagi.
Peluang lainnya yang mestinya, menjadi perhatian mahasiswa, adalah semakin meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan pangan, seiring dengan makin bertambahnya penduduk dunia. Namun, jika tidak mampu menjadi sosok yang inovatif, serta tidak terdorong untuk menguasai teknologi, maka mahasiswa Indonesia. Bakal tidak menjadi pemenang dalam persaingan.
Dalam paparannya, Hasanuddin Atjo, memutarkan dokumentasi tentang teknologi Supra Intensif yang meruopakan temuan dari hasil risetnya bertahun-tahun. Berkat teknologi tersebut, Indonesia kini “memegang” rekor produktifitas udang tertinggi di dunia.
Sumber: Radar Sulteng











