“Selama ini, hasilnya bahkan tidak mampu menutupi biaya operasional tambak. Tidak maksimal, karena kolamnya masih kolam marginal yang tidak menggunakan teknologi,”kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, DR Ir Hasanuddin Atjo, MP, saat meninjau kolam tersebut pekan kemarin.
Bersama Hasanuddin Atjo, Kepala UPTD Perbenihan, DR Saldyansyah Efendi MP, Kepala Bidang Budidaya dan P2HP, Ir Sunarwoko, SPi, MSi, Kepala Bidang Pengawasan, Yunber Bamba, APi, MSi dan Kepala UPTD Wilayah II, Ir Harry B Soesilo.
Menurut Hasanuddin Atjo, di lahan tersebut akan dibangun 8 unit kolam untuk budidaya udang dan dua unit kolam untuk tendon atau penampung air. Pembangunan yang nilai investasinya hampir Rp10 miliar tersebut, akan dilakukan secara bertahap.
Ditargetkan, dari kolam yang sebelumnya angka produksinya sangat minim tersebut, bisa menghasilkan atau memproduksi udang 7 hingga 8 ton perunit kolamnya. Artinya, dalam satu siklus masa budidaya, bisa dihasilkan udang hingga 64 ton.
Kolam yang ada di Tindaki, merupakan bekas pertambakan yang masih menggunakan sistem konvesional. Kemudian direkonstruksi dengan tambak beton, untuk memenuhi persyaratan replikasi teknologi supra intensif Indonesia.
Menurut Hasanuddin Atjo, investasi yang dilakukan, sudah dimulakan pada tahun lalu, senilai Rp2 miliar. Semunya untuk rekonstruksi empat petak tambak, pengadaan mesin genset untuk blower oksigen berikut jaringannya.
"Kami juga sudah memasang peralatan sistem pembuangan limbah otomatis atau central drain serta jaringan blower dan kincir pada dua petak tambak berukuran masing-masing 40x50 meter dan sudah memasuki tahap penebaran benih masing-masing 420.000 ekor per tambak dan kini telah memasuki masa budidaya," ujarnya.
Menurut Hasanuddin Atjo, penggunaan dana APBD dalam investasi ini, merupakan langkah pemanfaatan aset pemprov agar lebih produktif. Dengan produksi udang hingga 64 ton dalam satu siklus masa budidaya, diyakini akan sangat berkontribusi signifikan pada pendapatan daerah nantinya.
Hasanuddin Atjo, yang juga penemu teknologi budidaya udang supra intensif Indonesia yang diluncurkan pada 2013 itu, berharap kehadiran tambak supra intensif milik DKP Sulteng ini akan merangsang minat petambak tradisional di sekitarnya bahkan di Sulteng untuk mereplikasi teknologi ini.
Seorang petambak tradisional udang vaname di Desa Tindaki mengaku tertarik mereplikasi teknologi tersebut pada areal tambaknya seluas dua hektare yang saat ini hanya bisa menghasilkan sekitar 850 kilogram udang perhektare setiap kali panen.
"Kami akan belajar dulu kepada Kepala Dinas KP Sulteng bagaimana caranya membudidayakan udang dengan teknologi supra intensif ini," ujar petambak tersebut saat ditemui di Desa Tindaki baru-baru ini.
DKP Sulteng saat ini sudah memiliki tambak percontohan budidaya udang vaname dengan teknologi supra intensif di Kelurahan Mamboro, Kota Palu dan Kelurahan Kampal, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong yang terus berproduksi secara teratur dengan produktivitas rata-rata 150 ton/ha/siklus panen.(hnf)
Sumber: Radar Sulteng











