“Tapi kemudian, pola ini coba kita beri sentuhan inovasi. Dalam pembuatan sarana dan prasarananya, kita juga tidak manual lagi, tetapi dengan cara mekanisasi sehingga lebih efisien dan efektif,”kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, DR Ir Hasanuddin Atjo, MP, saat panen perdana pilot project mina padi di Desa Lape, Kabupaten Poso, Senin kemarin (15/5).
Salah satu bentuk inovasi yang dilakukan, adalah pembuatan kolam dalam yang mengelilingi tanaman padi. Dengan adanya kolam dalam itu, membuat proses pembesaran ikan makin efektif. Selain itu, juga dapat menangkal hama bagi petani. Utamanya hama tikus maupun hama serangga penggerek batang.
Ke depannya, mina padi diharapkan dapat menunjang kegiatan budidaya yang ada di keramba. Jika mengikuti umur padi, maka ikan yang dipanen di kawasan mina padi, masih berukuran kecil dan belum layak konsumsi.
“Ikan tersebut kemudian dibesarkan di keramba yang banyak terdapat di Danau Poso maupun Sungai Poso. Atau bisa juga dibawa ke kolam-kolam pemancingan,”kata Hasanuddin Atjo.
Sekadar informasi, bahwa tahapan pelaksanaan pilot project integrasi ikan dan padi (mina padi) di Kabupaten Poso, dilakukan sejak 2016 yang lalu. Kegiatan mina padi di Poso, diharapkan menjadi role mode. Terbukti sukses, sehingga dapat direplikasi oleh petani lainnya.
“Ada tenaga pendamping, yang mengawal petani dalam mengembangkan pilot project mina padi di Desa Lape ini,”ungkap Hasanuddin Atjo.
Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, sejak beberapa tahun lalu, memprogramkan mina padi di beberapa kabupaten. Yakni Kabupaten Parimo, Sigi, Tolitoli, Poso dan Kabupaten Buol. Untuk mina padi di kabupaten Sigi, Tolitoli, Poso dan Kabupaten Parimo, yang dibudidayakan adalah ikan nila dan mas. Khusus untuk Kabupaten Buol, yang diintegrasikan dengan tanaman padi, adalah udang jenis vaname.
Semua lokasi pilot project mina padi yang ada, mendapatkan tiga bentuk bantuan. Pertama, bantuan konstruksi atau pembuatan kolam di sekeliling sawah. Bantuan lainnya, dalam bentuk sarana budidaya, yakni benih dan pakan. Bantuan ketiga, dalam bentuk tenaga pendamping, yang memandu petani, ketika menjalankan program mina padi.(hnf)
Sumber: Radar Sulteng











