Sejumlah pedagang di Pasar Masomba dan Manonda, Minggu, membenarkan harga ikan kian mahal sudah berlangsung dua bulan ini disebabkan suplai dari nelayan menurun.
"Banyak nelayan tidak melaut karena musim ombak," kata Bahar, seorang pedagang ikan di Pasar Manonda, Palu Barat. Ia mengatakan meski harga ikan terbilang mahal, tetapi konsumen tetap membelinya.
Bahkan, kata dia, stok yang ada setiap harinya habis terjual, apalagi jenis ikan tertentu seperti ekor kuning, ikan bobara, ikan karapu dan juga kakap.
Jenis ikan-ikan tersebut paling banyak diminati konsumen, terutama pemilik rumah makan karena paling digemari masyarakat, khususnya meraka yang dari luar Sulteng datang ke Palu.
Hal senada juga disampaikan Jafar, seorang penjual ikan di Pasar Masomba. Ia mengatakan harga ikan cukup mahal, karena bertepatan dengan musim ombak.
Ombak di pesisir Pantai Donggala, Parigi Moutong, Poso dan Tolitoli cukup besar sehingga banyak nelayan yang enggan melaut.
Selama ini, kata dia, ikan yang dijual di Palu berasal dari Donggala, Tolitoli, Banggai, Poso, Morowali dan ada juga sebagian dari nelayan yang selama ini mencari ikan di Teluk Palu.
Tetapi, khusus ikan-ikan berkelas biasanya di datangkan dari Banggai, Tolitoli, Parigi Moutong, Donggala dan juga Morowali lewat jalur darat.
Harga ikan cakalang dan ikan lajang yang sebelumnya dijual Rp10 ribu, kini naik menjadi 20 ribu/tiga ekor untuk ukuran kecil.
Sementara ukuran sedang dan besar berkisar Rp20 ribu sampai Rp40 ribu/ekor. Informasi dari BMKG setempat menyebutkan dalam beberapa hari ini dan ke depan sejumlah wilayah di Sulteng masih diguyur hujan dan angin kencang.
Begitu halnya tinggi gelombang bisa mencapai diatas dua meter sehingga perlu diwaspadai para nelayang yang menggunakan kapal-kapal ukuran kecil.
Di Sulteng banyak nelayan yang menangkap ikan hanya menggunakan kapal kecil sehingga sangat rawan terjadinya kecelakaan saat gelombang besar. (sumber : antarasulteng.com)











