"Kehadiran sumur bantuan ini memberikan seribu manfaat bagi kami. Selain untuk pengairan sawah dan kolam ikan, juga bermanfaat untuk konsumsi manusia. Kemarau tahun ini telah menyebabkan sumur kami kering. Alhamdulillah ada bantuan sehingga kami kini tidak kesulitan lagi mendapatkan air," kata Udin, Ketua Kelompok Tani Silandoyan Jaya, Desa Malonas, Rabu.
Sumur yang diresmikan gubernur tersebut sudah lama diimpikan masyarakat karena setiap kali musim kemarau, warga pasti menderita kesulitan air.
"Bukan hanya kesulitan air untuk mengairi sawah, tetapi juga untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk minum, mandi dan cuci. Makanya ketika ada bantuan pembuatan sumur suntik dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, warga kami sangat bersyukur," kata Udin lagi.
Gubernur Sulteng Longki Djanggola berharap sumur tersebut bisa memberikan banyak manfaat bagi warga, khususnya dalam memenuhi kebutuhan sawah dan kolam ikan (mina-padi).
"Bantuan sumur bor ini semoga menjadi solusi atas kesulitan petani yang selama ini mengalami krisis air saat musim kemarau," kata gubernur.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng Hasanuddin Atjo mengatakann bahwa sumur bor diperuntukkan bagi petani yang ikut dalam program mina padi percontohan yang dikembangkan sejak 2014 bekerja sama dengan Bank Indonesia.
Namun, katanya, petani mengeluh nyaris gagal panen tahun ini akibat musim kemarau panjang karena air irigasi menjadi kering sehingga sawah mereka gagal panen dan kolam ikan nila dan mas di sekeliling sawah juga mengering.
"Dari keluhan itu, kemudian kita sahuti dengan memberikan bantuan dalam bentuk sumur suntik. Dari awalnya hanya untuk kolam, ternyata memberikan banyak manfaat. Bahkan dari sumur ini, masyarakat juga memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari untuk masak, mandi dan mencuci," kata Hasanuddin Atjo.
Gubernur pada kunjungan di Kabupaten Donggala bagian utara itu juga melihat dari dekat program listrik biogas mamnfaatkan kotoran sapi yang dibina oleh Bank Indonesia Perwakilan Palu.
Proyek percontohan mina-padi di Malonas ini dilaksanakan atas kerja sama DKP Sulteng dan Bank Indonesia. DKP Sulteng membantu petani membuat tambak di sekeliling sawah petani peserta dan memberikan bibit ikan dan pakan serta pelatihan dan pendampingan sistem budidaya, sedangkan Bank Indonesia membantu dalam penguatan organisasi kelompok dan manajemen usaha tani.
Bila proyek ini berjalan sesuai harapan, para petani bisa meningkatkan pendapatannya menjadi Rp20 juta sampai Rp30 juta setiap musim panen dari hasil padi, tambak dan juga palawija dan sayur mayur yang ditanam di atas pematang di tepian tambak. (R007)
Editor: Rolex Malaha