Kepala DKP “Arif Latjuba, SE.,M.Si” memaparkan laut Sulawesi Tengah ini masih dimanfaatkan dengan sangat baik oleh nelayan pesisir, baik itu ekosistem maupun dari bidang transportasi. Potensi besar laut Sulawesi Tengah yang masih belum tergarap secara maksimal dibeberapa wilayah pengolah perikanan, serta program pemerintah daerah dalam mendukung nelayan lokal, budidaya perikanan, dan rehabilitasi kawasan pesisir. Sedangkan laut Sulawesi Tengah ini dikelilingi oleh 4 (empat) Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia yaitu WPP 713 Selat Makasar (Palu & Donggala), WPP 714 Teluk Tolo (Parimo, Morut, Morowali, sebagian wilayah Banggai), WPP 715 (sebagian wilayah Banggai, Bangkep dan Balut) dan WPP 716 Laut Sulawesi (Buol. Toli-toli, Gorontalo dan Sulut). Panjang garis pantai Sulawesi Tengah yaitu 7.010 km, sehingga potensi budidaya perikanan sangat melimpah namun terdapat sedikit kesulitan dalam mewujudkan kegiatan tersebut yaitu kurang SDM dalam budidaya perikanan, serta edukasi pentingnya melindungi ekosistem laut masih dikatakan jauh karena banyaknya nelayan mencari ikan menggunakan bom ikan, sehingga merusak sistem terumbu karang.
Walikota Laut (PM) Adanto Tri Satyono menegaskan garis panjang wilayah Sulawesi Tengah dalam penanganan dan pengamanan untuk Laut Sulawesi Tengah, Danlanal Palu membagi beberapa sektor yaitu sektor perairan barat dan sektor perairan timur. Untuk dua sektor tersebut di awasi oleh beberapa KRI yang silih berganti secara rutin menjaga dua sektor perairan tersebut. Danlanal Palu selalu berkoordinasi dengan Bakamla, DKP, Polairud dan Basarnas untuk menjaga keamanan dan melindungi wilayah laut Sulawesi Tengah dengan menjaga nelayan Sulteng dan menindak/menangkap kapal-kapal yang merusak ekosistem di laut Sulawesi Tengah. Danlanal Palu menekankan pentingnya sinergi antara instansi pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menjaga peradaban laut, serta menyoroti peran strategis Pos TNI AL (Posal) yang tersebar di sejumlah wilayah pesisir dalam menjaga keamanan laut, mendukung pemberdayaan potensi maritim, serta mencegah berbagai aktivitas ilegal seperti penangkapan ikan dengan bom dan pencemaran laut demi kemaslahatan masyarakat pesisir. Sesuai dengan Visi Misi Gubernur Sulawesi Tengah yaitu “Berani Makmur Melalui Tangkap Banyak”, dan Filosofi Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng “Kendalikan Penangkapan Kembangkan Budidaya” untuk meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan pesisir di Sulteng.
Dialog ini diharapkan dapat menjadi media edukasi masyarakat sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif antara pemerintah daerah, aparat keamanan serta masyarakat akan pentingnya menjaga laut sebagai sumber kehidupan dan aset masa depan daerah.