PELABUHAN PERIKANAN PANTAI OGOTOA YANG TERUS BERSOLEK DAN BERBENAH

Cetak

PPP Ogotua, jalan masuknya sudah beraspal mulus. Ketika akan memasuki areal pelabuhan, pengunjung, akan langsung disambut dengan gerbang yang indah. Pelabuhan Ogotua, memiliki lahan seluas hampir delapan hectare. Seluruh bangunan darat dan dermaganya, ditata rapi dan bersih. Saat malam, areal pelabuhan juga mendapatkan penerangan yang cukup. Hebatnya, seluruh lampu jalan, termasuk lampu mercusuarnya, menggunakan sarana penerangan lampu bertenaga matahari (solar sel).

Pelabuhan perikanan terbesar di Sulteng itu, diresmikan Gubernur Sulawesi Tengah Drs H Longki Djanggola, MSi pada 16 Maret 2014 yang lalu. Hingga saat ini, pelabuhan Ogotua, memiliki sarana dan fasilitas berupa dermaga sepanjang 100 meter, trestle (jembatan penghubung) 50 meter. Ada tempat pelelangan ikan, perkantoran, gedung pertemuan, ruang koperasi, ruang pengepakan ikan, rumah pimpinan dan staf pelabuhan, mess nelayan, jalan lingkungan, jaringan listrik dan air bersih, masjid dan klinik kesehatan serta menara suar dan pagar pengaman di sekeliling kawasan.

Di tahun 2015 ini, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kembali akan dikucurkan dana belasan miliar. Dana itu, untuk melengkapi berbagai sarana dan fasilitas yang paling dibutuhkan nelayan dan investor. Yakni, pabrik es balok berkapasitas 15 ton, gudang pendingin berkapasitas 40 ton, dan ruang pembekuan ikan atau Air Blast Freezing (ABF) berkapasitas 10 ton.

Selain itu, saat ini sedang dibangun pula, gedung Pusat Pemasaran Dan Distribusi Ikan (PPDI) dan ruang pembersihan pukat untuk nelayan, sementara di dermaga sepanjang 100 meter itu dipasangi atap masing-masing sepanjang 40-an meter di kedua ujungnya. Semua pekerjaan yang menelan dana belasan miliar dari APBN Kementerian KP ini menurut rencana akan diresmikan Gubernur Sulawesi Tengah pada 22 November 2015.

"Kita ingin meningkatkan fungsi pelabuhan ini agar menarik, baik bagi para investor maupun para nelayan yang ingin beraktivitas di dalam kawasan," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng DR Ir Hasanuddin Atjo, MP di sela peninjauannya di PPP Ogotua awal November belum lama ini.

Hasanuddin Atjo tampak puas dengan progres pengerjaan semua proyek di dalam kawasan pelabuhan tersebut. Katanya, sarana dan fasilitas yang tersedia, nantinya akan membuat proses penanganan ikan dan hasil laut lainnya, berjalan dengan alur yang efektif dan runtut (selaras) dari satu tempat ke tempat lain sesuai alur `handling` yang baik dan benar sehingga kualitas sangat terjamin.

Semua ikan yang dibongkar dari atas kapal akan diturunkan di atas dermaga yang beratap sehingga tidak akan terkena sinar matahari secara langsung sehingga proses pembusukan bisa diperlambat.

Dari dermaga, ikan akan dibawa ke tempat pembersihan dan pemilahan (seleksi) lalu ke pusat pemasaran dan distribusi ikan (PPDI) untuk dilelang, sementara ikan yang tidak terjual, dimasukkan ke dalam gudang pembekuan (ABF) dan setelah mencapai tingkat kebekuan tertentu, dipindahkan ke gudang pendingin sebagai stok penyangga.

Menurut Hasanuddin Atjo, bahwa kehadiran PPP Ogotua sebagai yang terbesar dengan sarana dan fasilitas telengkap di Sulteng, sangat strategis untuk memperbaiki kesejahteraan nelayan. Juga dalam rangka, meningkatkan industrialisasi perikanan dan menjadi bagian dalam Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN).
Diharapkannya, bahwa dengan hadirnya PPP Ogotua, harga ikan akan lebih stabil dan menguntungkan nelayan. Para investor akan lebih tertarik berinvestasi sehingga memberikan nilai tambah bagi nelayan dan perekonomian daerah, sedangkan dalam rangka SLIN, PPP Ogotua akan menjadi pemasok ikan untuk SLIN Palu-Donggala yang juga sedang dikembangkan," ujarnya.

Menurut Hasanuddin Atjo lagi, bahwa pelabuhan Ogotua, diharapkan akan menjadi pusat pendaratan dan pengolahan hasil perikanan dari perairan Selat Makassar dan Laut Sulawesi. Industrialisasi perikanan diharapkan tumbuh di tempat ini dan memberikan nilai tambah yang besar bagi rakyat dan daerah.

“Olehnya itu, kami mengajak para investor untuk membangun usaha pengolahan ikan seperti industri pindang karena semua sarana dan fasilitas pendukung sudah tersedia. Industrialisasi ini penting didorong karena akan memberikan nilai tambah untuk rakyat dan perekonomian daerah,”tandasnya.(**)