PEROLEH PANEN TOTAL HINGGA 20 TON

Cetak

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, DR Ir Hasanuddin Atjo MP, memantau langsung proses panen terakhir di kolam Kampal. Menurutnya, walaupun termasuk tinggi, namun produktivitas di kolam Kampal, masih belum mengungguli produksi di kolam replikasi supra intensif yang ada di Kelurahan Mamboro.

“Kalau dirata-ratakan, tingkat produksi di Kampal ini baru mencapai 13 ton lebih, atau hampir mendekati 14 ton. Kalau di Mamboro, tercatat sudah lebih 15 ton bahkan hampir 16 ton dalam satu siklus masa pemeliharaan,”kata Hasanuddin Atjo.

Luas kolam yang ada di Desa Kampal, sama dengan luasan kolam yang ada di Mamboro, yakni lebar 25X25 meter dengan kedalaman lebih dari 2 meter. Keduanya, mereplikasi penuh teknologi supra intensif.

Yang menarik, saat panen total di Kampal, turut hadir menyaksikan Kapolres Parimo AKBP Muh. Ridwan bersama Kadis Kelautan dan Perikanan Kabupaten Parimo, serta pengusaha udang asal Banten Alfansuri yang datang bersama sejumlah stafnya. Dalam kesempatan tersebut Alfansuri, mengaku semakin tertarik dan akan segera mereplikasi tambak udang supra intensif ini di lokasi tambak miliknya di Banten.

Jug hadir menyaksikan panen, H Latif yang merupakan pengusaha local dari Parimo yang juga telah berhasil membuat kolam replikasi supra intensif dan baru-baru ini, melakukan panen 4 ton udang.

"Ini luar biasa. Terobosan yang harus diberi jempol kepada bapak Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng yang menemukan dan mengembangkan teknologi ini," kata Kapolres Parimo, AKBP Ridwan di sela-sela panen.

Menurut perwira menengah Polri dengan dua bunga di pundaknya ini, bahwa dia sudah lama mendengar informasi dan membaca di media massa, soal teknologi budidaya udang supra intensif ini. Namun kata Ridwan, baru kali ini dia menyaksikan secara langsung hasil panen.

Mantan Kasubdit Regident Ditlantas Polda Sulteng ini, Ridwan ingin memotivasi anggotanya, yang tertarik dan memiliki kemampuan untuk ikut mereplikasi teknologi budidaya udang temuan Hasanuddin Atjo tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, penemu teknologi supra intensif tersebut, Hasanuddin Atjo, bahwa kolam replikasi supra intensif, tidak membutuhkan lahan yang luas. Meski modal awalnya lebih mahal dari tambak konvensional, namun produktivitasnya sangat tinggi yakni 153 ton perhektare, dan merupakan angka produktivitas tertinggi di dunia dewasa ini. Karena itu, margin (keuntungan) usaha ini juga tinggi.(hnf)