Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, DR Ir Hasanuddin Atjo MP, mengatakan sesuai dengan tugas dan fungsinya, petugas di pelabuhan perikanan, juga mestinya membantu nelayan dalam mencari jaringan dalam memasarkan hasil tangkapannya.
“Saat ini saya lihat, pelayanan di pelabuhan baru sebatas memenuhi kebutuhan dasar nelayan. Padahal mestinya, petugas pelabuhan ikut membantu nelayan dalam meningkatkan nilai tambah dari hasil tangkapannya. Bahkan sampai membantu nelayan untuk mengolah hasil tangkapannya, agar lebih memiliki daya saing dan berdampak pada peningkatan pendapatannya,”kata Hasanuddin Atjo, saat membuka kegiatan pembinaan dan koordinasi petugas PPP dan PPI di lingkup UPTD Pelabuhan Perikanan, medio pekan kemarin.
Menurut Hasanuddin Atjo, nelayan perlu untuk dibantu dalam membangun jaringan dalam memasarkan hasil tangkapannya. Sebab katanya, jika hanya mengandalkan serapan pasar tradisional atau di sekitar wilayah penangkapan, daya serap pasarnya sangat terbatas. Selain itu, harganya juga akan murah. Berbeda jika hasil tangkapan itu bisa dipasarkan melalui antar pulau, atau bahkan masuk ke produsen olahan berbahan baku ikan, yang ada di Pulau Jawa yang sering mengeluh kesulitan mendapatkan bahan baku.
Dalam kesempatan tersebut, Hasanuddin Atjo juga memaparkan rencana pembuatan ikan pindang. Dalam program tersebut, diharapkan adanya keterlibatan secara aktif seluruh petugas pelabuhan. Pembuatan pindang katanya, merupakan salah satu dari program pemberdayaan yang dilakukan antara bidang P2HP dengan melibatkan petugas pelabuhan.
“Prospek pindang cukup luar biasa di Pulau Jawa ini peluang yang mestinya kita tangkap. Selama ini di Jawa, pindang yang ada bisa kita kategorikan sudah hamper KW 6, karena kualitas ikannya. Beda dengan ikan kita di sini yang masih segar, sehingga produksi pindang kita masih KW1,”katanya.
Untuk merealisasikan program tersebut, menurut Hasanuddin Atjo memang perlu ada workshop yang mendatangkan pakar pembuat pindang. Kegiatan workshop tidak cukup hanya sehari. Bahkan bila perlu katanya, dilakukan sampai enam bulan, agar proses transfer pengetahuannya lebih komperhensif.
“Ikan yang masih segar langsung dibuat pindang. Setelah itu disimpan dalam ruang beku, lalu kemudian dipasarkan. Prospek pasarnya bukan hanya dalam negeri, tapi bisa sampai ke Arab Saudi dan Malaysia, dimana banyak Tenaga Kerja Indonesia yang suka pindang,”katanya lagi.
Kepada petugas pelabuhan, Hasanuddin juga menitip harapan, agar selalu mengubah dan membuka pemikiran serta selalu mengikuti perubahan. Untuk mengubah mind set masyarakat, maka aparaturnya yang harus berubah lebih dulu. Untuk mengarahkan agar masyarakat disiplin, maka aparaturnya yang harus mendisiplinkan dirinya.
“Bagaimana kita mau masyarakat bisa disiplin, kalau kita sendiri tidak disiplin. Harus ada kesadaran. Kadang kita gampang mengkritisi orang lain, padahal akar persoalan ada pada kita. Saya juga minta, agar kita jangan terlalu gampang salahkan masyarakat, padahal justru kita yang salah,”demikian Hasanuddin Atjo.(hnf)