Saat paparan tentang supra intensif dalam seminar rangkaian kegiatan Indoaqua 2015, banyak kalangan usaha yang hadir sebagai audience saat itu, menyampaikan ketertarikannya berinvestasi budidaya udang dengan mereplikasi teknologi temuan DR Ir Hasanuddin Atjo MP tersebut.
Dari sekian investor tersebut, ada enam yang calon investor di luar usaha perikanan yang menyatakan ketertarikannya. Bahkan mereka, mengaku siap untuk langsung action. Calon investor tersebut, adalah pengusaha di bidang logistic, industri mesin, serta beberapa sector usaha lainnya.
“Untuk lokasi investasinya, saya yakin mereka sudah punya gambaran. Tapi saya secara khusus memberikan rekomendasi Sulteng. Pertimbangannya, bisa kita kawal dan kondisi lingkungan di Sulteng masih cukup bagus. Tapi mereka tanya lagi, bagaimana listriknya,”kata Hasanuddin Atjo.
Terkait seminar, topik yang disampaikan oleh Hasanuddin Atjo, adalah Budidaya udang teknologi supra intensif menuju akuakultur modern. Di awal paparannya, Hasanuddin Atjo, menyampaikan bahwa salah satu persoalan dunia adalah penyedian pangan termasuk protein dari ikan. Diungkapkannya, berdasarkan data FAO 2014, bahwa produksi ikan dunia di 2013, sekitar 190 juta ton dan kontribusi akuakultur (perikanan budidaya) sudah sebesar 50 persen.
“Sementara itu Indonesia di 2014, produksi perikanannya sebesar19 juta ton dengan kontribusi akuakultur 13 juta ton dan 10.juta ton dari rumput laut,”bebernya.
Olehnya itu, kedepannya peran akuakultur akan lebih dominan, mengingat sumberdaya ikan tangkap sudah berada di ambang batas. Olehnya itu, dibutuhkan penerapan akuakultur modern yang dicirikan tidak membutuhkan lahan luas, produktivitas tinggi, dapat diprediksi, biaya produksi per unit lebih murah dan yang tidak kalah pentingnya, adalah teknologi yang ramah lingkungan.
Seminar dalam rangka Indoaqua 2015 tersebut, dihadiri ratusan pelaku usaha udang yang sudah malang melintang di bisnis ini. Juga hadir pelaku usaha baru, bahkan pelaku usaha di bidang lain, seperti, logistik dan industri mesin. Mereka menyatakan ketertarikannya, karena sudah lama mendengar informasi tentang teknologi supra intensif.
“Motivasi mereka hadir, hanya ingin mendengarkan bagaimana konsistensi produksi supra intensif, bagaimana perkembangan teknologinya, sampai kepada dimana saja teknologi telah direplikasi. Termasuk yang mereka ingin tahu, bagaimana penanganan limbahnya,”kata Hasanuddin Atjo.
Dalam diskusi, terungkap tidak ada lagi yang meragukan teknologi Supra intensfi, karena sejak ditemukan di 2011, sudah direplikasidi di beberapa tempat. Antara lain Sulsel, Sulteng, serta NTT, dengan variasi luas tambak dari 75 meter persegi sampai 1200 meter persegi. Proiduktivitasnya permeter persegi antara 12-17 kilogram atau 6-7 kilogram per meter kubik.
“Saat ini juga sedang dikembangkan nursery (potokolan) modern dan mesin penangkap limbah mekanis yang akan meninggalkan penanganan limbah konvensional,”katanya lagi.
Dalam paparanya Hasanuddin Atjo, juga menyampaikan bahwa pengertian supra intensif, adalah mengimplementasikan secara konsisten dan terkontrol lima sub sistem buddidaya. Dimulakan menggunakan benih yang bermutu, kecukupan nutrisi, mengendalikan patogen dan dikemas dalam satu manajemen modern. Selanjutnya dikatakannya, bahwa Indonesia akan menjadi penghasil udang terbezar dunia, bila dapat memanfaatkan teknologi temuan anak bagsa ini secara terkendali.
“Persoalan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pemenuhan pangan dan gizi, lingkungan serta pertumbuhan ekonomi hanya dapat dijawab dengan teknologi,”kata Hasanuddin Atjo di akhir paparannya.
Dalam seminar, narasumbernya selain DR Ir Hasanuddin Atjo MP, turut menjadi pembicara Iwan Soetanto, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI), Ketua Masyarakat Perbenihan dan Pembibitan Indonesia Dr. Agus Somamihardja, Direktur PT Bibit Unggul Global Gen, Wayan Merthayasa, Peneliti Utama, Balai Besar Litbang Budidaya Air Payau Maros, Prof Dr Rahmansyah dan Produsen Induk Vanamei Kona Bay Hawai USA, DR George Chamberlain, yang berbicara melalui teleconference.
Kegiatan Indonesian Aquaculture 2015, berlangsung pada 28 hingga 31 Oktober di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Hall 5, BSD City, Tangerang Selatan-Banten. Kegiatan mengangkat Tema: Sustainable Aquaculture for Business and Prosperity. Taglinenya, ubah hobi jadi usaha. Sedangkan bentuk kegiatan yang difasilitasi Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Repulik Indonesia tersebut, yakni seminar, pameran, temu bisnis dan investasi.(hnf)