Menyusul kedua dan ketiga tertinggi diantaranya masing-masing Kabupaten Parigi Moutong 77,62 Kg per kapita per tahun dan Banggai Laut mencapai 74,04 Kg per kapita per tahun. Sementara itu, AKI terendah berada di wilayah Kabupaten Sigi dengan angka 57,25 Kg per kapita per tahun.
Untuk diketahui, Sulawesi Tengah memiliki 4 (empat) Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) diantaranya WPP 713 di selat Makassar, WPP 714 di Teluk Tolo, WPP 715 di Teluk Tomini, dan WPP 716 di laut Sulawesi. Hal inilah yang menyebabkan kemudian AKI di Sulawesi Tengah cukup tinggi. Terlebih mengingat sebagian besar penduduk berada di wilayah linear.
Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, Moh. Arif Latjuba, kepada media ini saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (8/6/2023) pagi. “Di Sulawesi Tengah ini ada empat WPP kita, dan penduduk kita sebagian besar itu bermukim di posisi linear,” jelasnya.
Ditambahkan, untuk AKI di Sulawesi Tengah sekiranya 5 (lima) tahun terakhir terus mengalami trend kenaikan bahkan selalu berada di atas rata-rata nasional. Hal ini memungkinkan di tahun 2023 pun demikian. “Pokoknya kami punya angka, karena kita melihat lima tahun ini (2017-2021, red) di atas rata-rata, yakin saja dan percaya kita masih berada di atas rata-rata,” sebutnya.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan terus berupaya menjaga stabilitas harga ikan agar terhindar dari inflasi. “Ikan itu kita upayakan jangan dia ikut inflasi, supaya masyarakat membeli terjangkau. Kita menekan harga ikan jangan sampai terjadi lonjakan harga,” imbuhnya.
Melalui media ini, sebut Arif, ia menghimbau agar kiranya masyarakat dapat membudayakan mengkonsumsi ikan. Terlebih ikan diketahui memiliki gizi utamanya dalam mencegah terjadinya stunting. “Budayakan makan ikan, itu sarannya kita,” imbaunya.(SCW)
Sumber : mediasulawesi.id











