Wagub Sulteng Minta TPID Bergerak Cepat

Cetak

"Kalau inflasi tinggi harus segera ada reaksi yang cepat dan tepat agar inflasi langsung bisa ditekan," kata Wagub Soedarto pada pembukaan rapat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Tengah di Ruang Polibu Kantor Gubernur Sulteng, Kamis. Rapat tersebut dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi yang juga Ketua TPID Sulteng Amdjad Lawasa dan dihadiri para pejabat dari Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), Bulog, PT. Pelindo dan dinas instansi terkait. Dalam rapat tersebut terungkap pertumbuhan ekonomi Sulteng pada Triwulan I 2015 mencapai 17,76 persen, lebih tinggi dari triwulan sebelumnya 9,51 persen. Peningkatan yang signifikan itu berasal dari kontribusi sektor industri pengolahan, seiring dengan beroperasinya kilang LNG di Banggai dan smelter nikel di Morowali. Namun di sisi lain, terjadi instabilitas inflasi di Kota Palu yakni pada Januari terjadi inflasi 0,12 persen, Februari deflasi 1,84 persen, Maret deflasi -0,86%, April inflasi 0,37 persen dan Mei inflasi 2,24 persen dan menjadi angka inflasi tertinggi di Indonesia. "Lonjakan harga ikan laut segar yang mencapai 40 persen, serta sayur mayur dan cabe menjadi penyebab inflasi bulan Mei 2015," kata Kepala Biro Ekonomi Setda[ropv Sulteng Tuti Zabrina. Menyikapi laporan itu, Wagub meminta TPID bekerja lebih cepat dalam menanggulangi inflasi karena masyarakat akan segera memasuki bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Wagub meminta setiap kabupaten di Sulteng segera membentuk TPID sebab sampai saat ini baru Kota Palu yang sudah memiliki TPID. Hal ini menyebabkan ukuran inflasi belum mencerminkan secara komprehensif kondisi di Sulteng sebab data yang digunakan hanya mencakup wilayah Kota Palu saja tanpa data dari 12 kabupaten lainnya. Waagub Sudarto juga mengusulkan langkah-langkah taktis mencegah inflasi seperti mengoptimalkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), menggelar operasi pasar, menjalin kerja sama lintas daerah dan dengan swasta dalam menjaga stok barang, pembangunan infrastruktur, dan penyediaan cold storage untuk hasil perikanan. "Masing-masing daerah harus mengalokasikan anggaran untuk menggelar pasar murah bila terjadi lonjakan harga untuk komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, dan gula pasir," pinta Wagub. Rapat TPID tersebut menyimpulkan bahwa stok bahan pangan dan komoditas strategis lainnya menjelang Ramadhan dipastikan cukup sehingga optimistis tidak akan terjadi inflasi yang tinggi pada Juni 2015. TPID menjamin kelancaran distribusi distribusi pangan dan PT. Pelindo akan selalu memprioritaskan kegiatan bongkar-muat bahan pangan di Pelabuhan Pantoloan Palu bahkan pelabuhan terbesar di Sulteng itu akan terbuka 24 jam untuk distribusi barang. Untuk meredam gejolak harga, TPID akan mengintensifkan operasi pasar dan pasar murah serta akan mulai mengampanyekan "makan ikan air tawar" sebagai alternatif untuk menyikapi mahalnya ikan laut segar. (skd) /Editor: Santoso/ COPYRIGHT © 2015