"Kalau mengamati penyebab naiknya harga ikan pada Mei 2015 yakni konsumsi yang melonjak sangat tinggi, maka kami optimistis harga ikan segar pada Juni ini akan turun," katanya di Palu, Rabu, saat diminta tanggapan mengenai lonjakan harga ikan yang menyebabkan Kota Palu mengalami inflasi 2,24 persen pada Mei 2015. Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng merilis inflasi Kota Palu bulan Mei 2,24 persen tersebut merupakan yang tertinggi di antara 82 kota di Indonesia yang diukur inflasinya. Pemicunya adalah kenaikan harga ikan segar sampai 40 persen, menyebabkan indeks kelompok bahan pangan naik 11,3 persen, sedangkan kelompok lainnya hanya naik pada angka di bawah satu persen. Akibat inflasi yang tinggi itu, Gubernur Sulteng meminta semua dinas terkait untuk menjaga stabilitas pasokan ikan ke Kota Palu serta mewasdai peningkatan harga komoditas strategis lainnya seperti beras, gula pasir, minyak goreng, telur, cabe, rempah-rempah agar inflasi bulan Juni bisa ditekan serendah mungkin. Menurut Atjo, ada dua penyebab utama naiknya harga ikan pada Mei, yakni pertama menurunnya hasil tangkapan nelayan di Selat Makassar akibat cuaca yang kurang mendukung. "Angin dan gelombang laut di Selat Makassar dalam sebulan terakhir cukup mengganggu nelayan untuk mencari ikan, sehingga jumlah ikan yang dibongkar di PPI Donggala juga menurun," ujarnya. Bersamaan dengan penurunan produksi tersebut, kata Atjo, Kota Palu menjadi tuan rumah Olimpiade Olahraga dan Siswa Nasional (O2SN) dan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (PIONIR) Perguruan Tinggi Islam se-Indonesia yang keduanya diikuti lebih dari 3.000 orang peserta, berlangsung selama sepekan. "Jadi konsumsi ikan memang sangat tinggi pada bulan Mei, sehingga harganya otomatis meningkat drastis. Apalagi, masyarakat Palu dan sekitarnya belum terlalu menyukai ikan air tawar serta tahu-tempe," ujarnya. Ke depan, kata Atjo, solusi terbaik untuk mengakhiri fluktuasi harga ikan di pasaran, pemerintah harus mempercepat terwujudnya Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN). SLIN akan menjadi pusat penyangga hasil perikanan yang akan menampung ikan hasil tangkapan nelayan saat musim ikan dengan harga yang wajar untuk dilepas pada saat musim paceklik ikan juga dengan harga tertentu. "Dengan cara ini, para nelayan yang selama ini menerima harga terlalu rendah saat tangkapan melimpah akan tetap menerima harga yang wajar, sedangkan saat paceklik ikan, para konsumen tidak akan terbebani dengan harga yang tinggi dan kelangkaan bahan baku untuk industri," ujarnya. Untuk merealisasikan SLIN, katanya, pemerintah harus melakukan banyak intervensi yakni membangun sarana dan fasilitas pendukung di pelabuhan berupa tempat pembersihan ikan, ruang pembekuan (air blast freezer-ABF), gudang pendingin (cold storage), sarana air bersih, listrik, pabrik es balok, stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan serta sarana transportasi hasil perikanan. (skd) /Editor: Santoso/ COPYRIGHT © 2015