KESUKSESAN DAN REPUTASI LAHIR DARI KEBIASAAN MENGERJAKAN DAN MENCATAT

Cetak

Makna Kerjakan dan Catat

Kerjakan dan  catat  juga telah menjadi landasan lahirnya  sejumlah teori manajemen dalam merancang dan melaksanakan program atau kegiatan, salah satunya adalah George  R.Terry pencetus   teori  Planning, Organizing, Actuating and Controlling atau disingkat POAC dalam bukunya Principles of Manajemen. Sampai saat ini teori G.R. Terry masih relevan dipergunakan sebagai basis menyusun dan melaksanakan sebuah program maupun kegiatan. Planning adalah hal esensial yang harus dilakukan seorang manajer untuk menentukan apa yang harus dilakukan oleh staf, kapan, di mana   dan bagaimana caranya dalam rangka mewujudkan tujuan (target)   sebuah program atau organisasi.   Dalam organizing harus dirumuskan   langkah-langkah strategis   yang terukur atau biasa juga disebut dengan SOP, Standar Operasional Presedur, ukuran-ukuran yang dipakai seperti waktu, mutu dan seterusnya sebagai pedoman dalam merealisasikan target yang telah ditetapkan itu. Selanjutnya actuating merupakan langkah implementasi dari program atau kegiatan itu yang mengacu kepada standar atau ukuran yang telah ditetapkan dalam tahapan   organizing sebelumnya. Terakhir adalah controlling yaitu pengamatan terhadap faktor-faktor penyebab adanya hambatan maupun tantangan yang dihadapi dalam mencapai target, bagaimana solusinya hingga tujuan atau target itu dapat direalisasikan. Bahkan lebih jauh lagi controlling dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah program ini dapat dilanjutkan untuk jangka yang lebih panjang atau tidak perlu dilanjutkan.  Dalam controlling  mencatat tentang faktor yang menjadi kekuatan, kelemahan, tantangan dan peluang dari program itu.  Kalau dipandang bahwa kelemahan dan hambatan dapat dieleminir dan kekuatan serta peluang dapat dimaksimalkan, maka program ini dapat dilanjutkan dan dibesarkan.  Sebaliknya bila tidak maka program tersebut  dipertimbangkan untuk tidak dilanjutkan.

Contoh  Kerjakan dan Catat

Kali ini contoh yang akan dikemukakan adalah proses penemuan inovasi-teknologi budidaya udang vaname supra intensif oleh Hasanuddin Atjo. Setelah melalui proses kerjakan dan catat selama 7 tahun akhirnya penemuan ini di louching di tahun 2013 oleh Prof. Rhokmin Dahuri, ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia, MAI.  Inovasi ini berangkat dari hipotesis desertasi yang bersangkuatan di   tahun 2004 yang intinya bahwa dalam budidaya udang di kolam terkontrol bila mutu benih udang dapat ditingkatkan dan lingkungan budidaya dapat dikendalikan, maka produktifitas dapat ditingkatkan berkali lipat.  Hipotesis ini merupakan catatan yang harus dikerjakan dan memerlukan sejumlah percobaan bagaimana meningkatkan mutu benih dan mengendalikan lingkungan. Meningkatkan mutu benih tidaklah sulit menemukan metodanya dan melakukannya, tetapi mengendalikan  lingkungan internal budidaya atau lingkungan dalam kolam budidaya merupakan pekerjaan yang memerlukan pemikiran “integrasi keilmuan”.   Di dalam kolam budidaya,  udang makan dan membuang kotorannya pada tempat yang sama , sehingga  kotoran harus  dikeluarkan dari kolam itu secara periodik.   Jikalau tidak,   maka kotoran akan menjadi racun dan akhirnya membahayakan si udang. Bisa dibayangkan problemnya, pertama bila dalam sehari jumlah makanan yang diberikan ke dalam kolam sekitar 1000 kg, maka limbahnya mendekati 300 kg, dan kedua bagaimana “rasanya  bila hidup  bersama kotoran”.  Dari serangkaian percobaan yang dilakukan, maka ditemukanlah yang namanya central drain atau toilet untuk udang yang berfungsi  membuang kotoran secara mekanis kapan saja  sesuai kebutuhan sehingga dasar kolam selalu bersih.   Karenanya   untuk menunjang tujuan itu, maka konstruksi harus berbentuk bujursangkar atau selinder, dinding dan dasar kolam terbuat dari beton, fiber atau plastik serta ukuran kolam tidak besar agar kotoran dapat dikumpulkan dengan mudah. Kecepatan arus memutar menggunakan kincir air untuk mengumpulkan kotoran  juga harus di hitung agar udang tidak terpengaruh.

Memerlukan Pemimpin Bereputasi

Pricewaterhouse Coopers (PwC)  sebuah  lembaga riset dunia, berdasarkan hasil kajiannya mengemukakan bahwa di tahun 2045 Indonesia dapat menjadi negara dengan kekuatan ekonomi di peringkat-5  dunia setelah China, Amerika Serikat, India dan Brasil  dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 5,24 triliun dan di tahun 2050 meningkat posisinya menjadi peringkat-4 dengan nilai US$ 10,50 triliun.  Sementara itu di tahun 2018 PDB kita untuk pertama kalinya tembus di angka US$ 1 triliun dan menempatkan  Indonesia diurutan

16 dunia. Kekayaan sumberdaya alam Indonesia yang dimiliki, bonus demografi, Negara kepulauan yang beriklim tropis adalah pembenaran dari kajian lembaga riset dunia tersebut. Karena itu negeri ini   membutuhkan sejumlah pemimpin atau aktor pembangunan   yang memiliki “reputasi; mampu menerobos batas; berkemampuan melihat apa yang ada di balik bukit kemudian mengelolanya secara berkelanjutan” untuk kesejahteraan yang sebesar- besarnya.  Masyarakat harus diedukasi  memilih pemimpin yang memiliki reputasi, sehingga diharapkan sang pemimpin yang terpilih juga akan melahirkan pemimpin-pemimpin bereputasi lebih banyak lagi. Semoga.

Hasanuddin Atjo, Ketua Ispikani Sulteng