ERA INDUSTRI 4.0, Literasi Sebuah Keniscayaan Oleh Hasanuddin Atjo*

Cetak

Dunia kerja saat ini  diisi  sekitar 60 persen oleh gen Y atau generasi melenial (lahir setelah tahun 1980) dengan karakter update atau kekinian, adaptif, inovatif, tegas dan demokratis.  Sisanya adalah gen X (lahir sebelum tahun 1980) dengan kebiasaan lebih kepada prosedural dan konvensional.  Diantara gen Y dan X ada yang disebut gen Intercept atau irisan, namun prosentasenya kecil  yang terdiri atas dua sub gen:  pertama sub gen yang usia bilogisnya X, namun karakternya mengikuti gen Y, kedua adalah sub gen yang usia bilogisnya Y tetapi karakternya mengikuti gen X.  Persoalan yang muncul kemudian adalah kepada SDM yang belum adaptif dengan perubahan-perubahan yang telah disebutkan diawal tulisan ini, sehingga  menimbulkan gap antara yang adaptif dengan yang belum.  Inilah yang menjadi salah satu penyebab sulitnya membangun “frekuensi yang sama” dalam rangka membangun yang berorientasi kepada melayani, melindungi, memberdayakan dan mensejahterahkan.  Harapan kita bagaimana prosentase gen intercept yang pertama lebih diperbesar dan prosentase gen intercept yang kedua dapat dikurangi.  Ada beberapa alasan mengapa sub gen intercept harus menjadi perhatian, terutama sub gen pertama. yaitu : (1) kepemimpinan puncak dalam organisasi masih didominasi oleh generasi X; (2) bonus demografi 2028-2030 memerlukan skenario yang masih  dirancang oleh generasi X yang berkarater melenial, karena bila tidak,  maka bonus ini akan berlalu begitu saja.

Pertanyaan yang muncul kemudian bagaimana strategi yang harus dibangun menyikapi perubahan yang begitu cepat dan kadang kala tidak terlihat itu?.  Dari beberapa referensi termasuk dialog terbatas yang dilakukan dengan beberapa kalangan, maka jawabannya adalah “suka tidak suka harus membangun literasi”. Pengertian literasi sesungguhnya adalah keterbukaan wawasan terhadap beberapa hal yang terus berkembang dan berubah.  Paling tidak ada tiga poin penting untuk itu yaitu keterbukaan wawasan terhadap sosial-budaya termasuk didalamnya pemahaman berdemokrasi; keterbukaan wawasan terhadap perkembangan inovasi-teknologi; dan kerterbukaan wawasan terhadap ekonomi.  Selanjutnya bagaimana skenario atau strategi membangun literasi?.  Jawabannya adalah membangun  “minat baca dan daya baca” dan kemudian menjadi referensi untuk merancang sebuah strategi atau scenario.  Hasil pengamatan menunjukkan bahwa umumnya gen X minat bacanya sudah ada, namun daya bacanya yang harus ditingkatkan.  Sebagai contoh sebahagian besar gen X sudah familiar dengan teknologi washapp (WA) dan bisa menghabiskan waktu lama untuk membaca atau merespon sejumlah informasi pendek yang substansinya sebenarnya hal yang biasa saja.  Tetapi kalau  diperhadapkan kepada bacaan yang memerlukan pemikiran dan analisis seperti terkait dengan substansi  soial-budaya, inovasi-teknologi dan tentang ekonomi yang banyak tersedia  di  WA group  atau  melalui fasilitas Google searching biasanya di lewatkan atau di pending.  Kebiasaan ini tentunya harus di rubah agar gen X dapat menyiapkan sebuah skenario yang akan dilanjutkan oleh gen Y dan Z akan datang.  Masih ingat dalam ingatan bagaimana Mr. Mahathir Muhamad yang sudah uzur,  berusia 92 tahun kemudian diminta oleh rakyatnya kembali menjadi perdana Menteri Malaysia untuk satu periode ke depan. Ini tentunya berkaitan dengan minat dan daya baca yang tinggi dari sang Perdana Menteri terpilih tersebut. Diyakini bahwa kita mampu mempersipkan skenario atau strategi pembangunan untuk diteruskan oleh generasi Y dan Z. Semoga.

 

Hasanuddin Atjo,  

Ketua Ispikani Sulawesi Tengah