Pascagempa, Nelayan Donggala Butuh Alat Tangkap

Cetak

Anggota DPRD Sulteng, Muhammad Masykur saat ditemui di sela-sela kunjungan reses di Kecamatan Sirenja, Ahad (11/11/2018) mengatakan, dalam kondisi  seperti ini mestinya sedapat mungkin pemerintah daerah bergerak cepat.

Hal yang urgen segera dipastikan adalah penguatan data. Data menjadi sesuatu yang wajib dipastikan keakuratannya oleh pemerintah daerah.

Masykur menuturkan, nelayan saat ini butuh difasilitasi alat tangkap agar dapat memiliki sumber penghasilan dan secara perlahan menata kehidupan baru.

Sebab, rumah hancur dan kini hidup di tenda pengungsian.

Abdullah, salah satu nelayan Desa Lero menuturkan bagaimana kondisinya.

Akibat gempa dan tsunami rumah dan alat tangkap yang dimilikinya hilang tanpa bekas. Tidak ada lagi yang tersisa.

“Kini saya dan keluarga harus memulai dari nol lagi. Harus bertahap memang. Tidak bisa tidak, mesti dilalui. Tinggal kuncinya ada di pemerintah daerah. Jika ditanya apakah kami sudah siap bekerja dan kembali melaut, kami jawab iya karena mau sampai kapan kami begini,” tutur Dullah.

Bagi Dullah bencana alam 28 September 2018 menyisakan banyak cerita duka selamat dari terjangan tsunami dengan hanya baju di badan.

Bersama keluarga kini hidup di tenda pengungsian Lapangan Sanggola, Dusun 01 Pompaya, Desa Lero.

Hal yang sama dituturkan Aspar, nelayan dari Desa Tanjung Padang Kecamatan Sirenja.

Jangankan rumah, perahu, mesin ketinting serta perlengkapan alat tangkapnya tidak terselamatkan.

“Syukurlah, Alhamdulilah kami masih selamat dari bencana kemarin,” katanya.

Pemerintah daerah diminta gerak cepat fokus kerja pemulihan ekonomi warga korban.

Hal demikian dimaksudkan agar dapat menjadikan ekonomi warga mulai tumbuh kembali, sebut Masykur.

 

Sumber: www.sultengterkini.com