Ketua Kelompok Pembudidaya Perikanan (Pokdakan) Berkah, Desa Lape, Suprin Lajiji, mengatakan jumlahnya bisa melebihi angka Rp300 juta, jika menghitung hasil padi dan ikan, sayur-mayur, cabe dan ubi yang ditanam di atas pematang.
Pokdakan Berkah, merupakan mitra Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, dalam penerapan Pilot Project Mina Padi di Desa Lape. Senin kemarin (15/5), dihadiri Wakil Bupati Poso, Ir Samsuri MSi, dilakukan panen perdana.
Panen perdana tersebut dipimpin Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng DR Ir H Hasanuddin Atjo, MP dan Wakil Bupati Poso Ir T Samsuri MSi, dihadiri pemerintah kecamatan Poso Pesisir, kepala desa dan masyarakat Desa Lape.
Saat panen perdana kemarin, diperoleh hasil yang membuat petani bisa tersenyum. Ikan yang dipanen, memiliki ukuran rata-rata empat ekor per kilogramnya. Bahkan untuk ikan mas, ada yang beratnya mencapai 1,2 kg perekornya.
Suprin ditemui usai panen, mengungkapkan bahwa selama masa budidaya, mereka sudah melakukan panen padi sekali. Hasilnya total tiga ton, dan dalam beberapa pekan ke depan, mereka akan panen padi kedua kali yang diperkirakan hasilnya akan melebihi dengan panen pertama.
"Kami yakin, hasil padi pada panen kedua nanti akan lebih banyak karena padi tidak lagi diserang hama tikus dan wereng, serta tanamannya lebih subur sebagai dampak kotoran ikan dan pupuk kandang yang dipakai di dalam kolam," ujarnya.
Suprin, menguraikan hasil analisis produksi yang mereka lakukan bersama tim penyuluh. Katanya, program mina padi yang ada di Pokdakannya, akan menghasilkan ikan nila 3.900 kilogram dengan nilai jual Rp117 juta dan ikan mas 4.875 kg dengan nilai Rp170 juta dan hasil padi Rp16 juta sehingga hasil kotor mencapai Rp303 juta. Tingkat kehidupan ikan saat mulai ditebar hingga dipanen, mencapai 65 persen.
"Bila dikurangi dengan ongkos operasional sebesar Rp70 juta, maka keuntungan bersih yang kami peroleh Rp230-an juta, itu belum termasuk hasil tanaman di atas pematang," ujar Suprin lagi.
Kalau siklus budidaya ini dilakukan dua kali dalam setahun, maka dari areal sawah satu hektare tersebut, Suprin mengaku, bisa memetik hasil bersih Rp450-an juta. Dengan hasil yang dicapai itu, Suprin mengaku akan mulai mandiri melakukan budidaya pada siklus berikutnya.
“Namun kami tetap mengharapkan dukungan Pemerintah Daerah Poso dan Dinas kelautan dan perikanan Sulteng, untuk mendampingi kami. Kami bertekad melanjutkan sistem budidaya mina padi kolam dalam ini, karena memiliki banyak keuntungan antara lain hama tikus teratasi sampai 90 persen, hama wereng berkurang drastis karena menjadi mangsa ikan, tanaman padi lebih subur akibat kotoran ikan dan tidak ada penggunaan bahan kimia dalam pemupukan dan pemberantasan hama,”katanya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng DR IR Hasanuddin Atjo, berharap inovasi teknologi budidaya ini, mampu merangsang pembudidaya lain, untuk menerapkan di lahannya masing-masing. Apalagi sesuai testimony Suprin, mina padi di Lape, terbukti meningkatkan pendapatan petani secara signifikan.
Program mina padi yang dibiayai dana APBD Sulteng 2016 ini merupakan proyek percontohan yang melibatkan Pokdakan Berkah Desa Lape yang mengelola sawah sekitar satu hektare milik 12 petani yang merupakan anggota Pokdakan Berkah. Pemprov Sulteng yang memanfaatkan dana APBD 2016, membangunkan kolam budidaya di sekeliling areal persawahan yang terbagi dalam empat petak. Lebar kolam adalah tiga meter dengan kedalaman 1,5 meter. Kolam ini ditebari ikan nila sebanyak 30.000 ekor dan ikan mas 15.000 ekor.(hnf)
Sumber : Radar Sulteng











