Kali ini yang menjadi perhatian dan wajib untuk dikujungi adalah Kawasan Tanjung Sanjangan di Desa Salumbia, Kecamatan Dondo, Kabupaten Tolitoli. Untuk menjangkau lokasi dari Kota Palu Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah sampai ke Desa Salumbia ditempuh dengan menggunakan kendaraan mobil selama 7 Jam. Setelah tiba di Desa Salumbia, menggunakan perahu motor kecil selama ±30 menit menuju Tanjung Sanjangan.
Dalam perjalanan menuju Tanjung Sanjangan akan disuguhkan dengan pemandangan yang indah mulai dari perairan laut yang jernih, hamparan terumbu karang cukup terjaga, pantai berbatu, dan jika beruntung dapat berjumpa dengan penyu hijau dan “atraksi” lumba-lumba.
Tadinya sebelum melakukan perjalanan ke Tanjung Sanjangan dengan tujuan utama danau-danau air asin dimana ditemukan spesies udang merah, kami mengumpulkan berbagai informasi terkait udang merah dan kawasan disekitarnya. Selain tentang keunikan dari udang merah karena warnanya yang merah seperti cabai dan jumlahnya yang banyak, cerita rakyat dibalik keberadaan udang merah membuat kami menjadi sedikit perlu berhati-hati dan menjaga perilaku kami agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Konon katanya apabila mengambil udang tanpa ijin akan menimbulkan bencana ketika kembali ke desa atau ketika mengambil udang akan menimbulkan warna merah terbakar pada tangan, serta beberapa cerita-cerita lainnya.
Cerita-cerita yang menimbulkan kesan takut tersebut serasa hilang setibanya di pantai tempat menambatkan perahu. Pantai pasir putih dan lingkungan sekitarnya yang masih sangat terjaga serta hamparan laut biru dihadapannya. Sebentar saja menikmati pantai, kami harus berjalan menuju danau air asin yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai hanya berkisar 15 menit berjalan kaki, dengan kondisi jalan tanah sedikit berbatu dan pohon kelapa serta semak disekitarnya. Beruntung saat itu kami didampingi oleh tokoh masyarakat setempat dan beberapa anggota kelompok pengawas masyarakat (POKWASMAS).
Tiba di Danau pertama kondisi sekitarnya terasa sejuk banyak ditumbuhi dengan pohon dan beberapa tanaman khas pantai. Berdiri dipinggir danau, tidak lama kemudian kami langsung dapat dengan mudah melihat beberapa udang merah, kebetulan pada saat itu air laut sedang pasang, sekitar pukul 10.40 WITA. Danau yang pertama kami temukan berkedalaman hingga 5 meter, perairan yang jernih dengan substarat dasar sedikit lempung, pasir dan karang. Berdasarkan hasil pengukuran beberapa parameter kualitas perairan secara insitu, diperoleh nilai salinitas 33 ppt, oksigen terlarut 5.07 mg/l dan suhu 29.4oC.
Menunggu sesaat seiring air pasang yang semain naik, semakin banyak udang yang keluar terutama dari dalam celah-celah batuan karang yang mebentuk danau ini. Untuk diketahui debit air didanau-danau yang berada dilokasi ini dipengaruhi oleh kondisi pasang surut air laut. Untuk mengambil sampel udang oleh tokoh masyarakat setempat kami diberikan jumlah yang tidak terbatas sesuai kebutuhan untuk identifikasi, sangat diluar ekspetasi mengingat kami banyak mendengar cerita yang kurang begitu meyakinkan kami untuk bisa membawa sampel udang lebih banyak. Kami selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi danau air asin berikut, dengan berjalan kaki ditempuh ±10 menit lamanya, kondisi jalan tanah, berbatu karang dan semak. Tiba dilokasi, terlihat luas danau lebih kecil sedikit dibanding danau sebelumnya. Kondisinya kurang lebih sama, lingkungan sekitar teduh, banyak tumbuhan disekitar, dengan batuan karang. Melihat ke perairan, ditemukan banyak udang dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari yang ditemukan di danau 1 (pertama) dan warnanya putih, corak putih hitam serta merah.
Melanjutkan perjalanan ke danau air asin berikutnya dimana situasinya kurang lebih sama, akan tetapi danaunya lebih kecil dibanding danau 1 (pertama) sedikit lebih besar dibandingkan danau 2 (dua).
Lokasi yang kami datangi berikut bukannya merupakan gua yang cukup besar bisa dimasuki akan tetapi pada saat air pasang harus berenang atau menyelam ke dalamnya. Ketika masuk, dan berang ke dalam, airnya sangat sejuk bahkan ingin berlama-lama sehingga sulit untuk meninggalkan tempat ini sama halnya dengan danau-danau air asin sebelumnya air dalam gua dengan celah batuan ini dipengaruhi dengan pasang surut air laut dan kemungkinan gua ini lokasinya paling dekat dengan laut.
Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, bekerjasama dengan salah seorang peneliti crustacea dari Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, LIPI Dr. Daisy Wowor, udang merah yang ditemukan didanau-danau air asin Tanjung Sanjangan berhasil diidentifikasi. Udang tersebut merupakan jenis Parhippolyte uvea Borradaile (1990) family Barboriidae. Penyebaran udang ini cukup luas, dijumpai di danau-danau air asin (anchialine) mulai dari bagian barat Samudera Hindia sampai dengan Hawaii, yaitu Aldabra di bagian barat Samudera Hindia; Pulau Kakaban di Kalimantan Utara, Halmahera di Maluku utara, P. Tiniguiban di Filipina, Uve di Kepulauan Loyalty, Atol Aniwetak, Kepulauan Fiji, dan Kepulauan Hawaii (P. Oahu dan P. Maui). Sedangkan udang lain yang ditemukan di danau dengan ukuran lebih kacil, hasil identifikasi merupakan jenis Antecaridina lauensis (Edmonson, 1935) dari family Antecaridina. Penemuan kedua jenis udang ini di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah ini dapat memotivasi kita untuk lebih menggali potensi kekayaan sumberdaya yang dimiliki. Dr. Daisy wowor sendiri menyambut gembira tentang kerjasama ini serta hasil yang didapatkan, terutama lebih memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di Indonesia.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah (Dr. Ir. Hasanuddin Atjo, MP) dalam suatu kesempatan menyampaikan keinginannya untuk kedepan menjadikan kawasan Tanjung Sanjangan sebagai kawasan destinasi wisata bahari yang tidak hanya menawarkan keunikan dan panorama alam, tetapi memberikan nilai edukasi bagi masyarakat tentang kekayaan dan keanekaragaman hayati yang dimiliki. Lebih lanjut beliau juga menyampaikan harapannya untuk melibatkan masyarakat lokal sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pengembangan kawasan, sehingga masyarakat setempat dapat memanfaatkan potensi dan meningkatan sumberdaya manusia mereka sehingga mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat menjadi lebih sejahtera. (AES)